Pada dasarnya, generasi Y atau yang biasa disebut generasi millenial hidup di teknologi yang serba bisa. Dan rata-rata pun mereka sudah menggunakan teknologi digital. Hal tersebut juga lah yang menjadi pembeda dari setiap wisatawan mancanegara alias wisman dalam berkunjung ke destinasi wisata di Indonesia. Masing-masing dari mereka memiliki kebiasaan tersendiri dalam berwisata. Ini semua berkat tidak lain dari regulasi dan teknologi.
Setidaknya itulah yang dikatakan Kemenpar kita, Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc . Hal tersebut pun sudah terbukti adanya dari Pariwisata Indonesia yang naik sebesar 22% di atas rata-rata pertumbuhan pariwisata dunia yang hanya 6,4% dan pertumbuhan di ASEAN yang mencapai 7%. Saya pribadi pun bisa melihat dampak tersebut. Sewaktu saya masih di Jogja beberapa bulan yang lalu, banyak sekali wisatawan mancanegara yang berasal dari negara-negara di Asia seperti Jepang, Korea, China, Vietnam, Singapore yang berlalu lalang di kota Gudeg tersebut. Sama halnya juga di Bali.
Tidak hanya dari generasi millenial dari luar negeri, millenials dari dalam negeri pun juga turut ikut andil dalam membangun pangsa pasar pariwisata digital di era ini. Karena begitu mudah menarik milenials untuk datang berkunjung disuatu lokasi bila lokasi tersebut instagramable. Hanya dengan memiliki beberapa spot yang sangat cocok untuk befoto dan berselfie ria dan bisa diposting di instagram, pasti milenials bakal berkunjung ke lokasi tersebut meskipun menempuh jarak yang terbilang lumayan.
Cara terbilang ampuh karena milenials sekarang sangat keranjingan yang namanya memrapihkan feeds instagram. Berbekal dengan mempromosikan destinasi wisata tersebut via Instagram dan media sosial lainnya, atau membayar influencer untuk mempromosikan destinasi wisata tersebut di media sosial mereka sehingga para followers mereka dapat melihat destinasi wisata tersebut dan merasa tertarik untuk berkunjung ke destinasi wisata tersebut.
Dari hal tersebut pun membuat para milenials nge-share destinasi wisata yang baru saja mereka kunjungi dan orang lain yang melihat pun juga tertarik dan pada akhirnya jadi nge-search di google. Itulah kekuatan dan sisi positif dari para milenials yang membuat pelaku bisnis pariwisata zaman sekarang melihat berbagai kesempatan untuk menggaet pengunjung.
Tidak melulu destinasi wisata modern yang sering dilabeli zaman now yang hanya dikunjungi milenials. Destinasi wisata alam seperti Raja Ampat di Papua Barat yang mempunyai gugusan pulau yang eksotis yang tak ada habisnya untuk di explore, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur yang menyajikan pemandangan matahari terbit di Gili Laba yang sangat eksotis dan siap memanjakan mata tiap para pengunjungnya, Derawan di Kalimantan Timur yang menawarkan taman bawah lautnya yang eksotis, serta Wakatobi di Sulawesi Tenggara yang memiliki titik-titik selamnya yang begitu menawan adalah sederet dari beragam destinasi wisata alam yang pasti menjadi daftar yang wajib dikunjungi oleh milenials
Begitu banyak potensi yang bisa didapatkan dari milenials, tetapi milenials memiliki satu kecendurungan untuk bisa selalu setia pada satu “brand”, namun dapat dengan mudah beralih. Hal itu tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku di industri pariwisata. Mereka harus selalu terus berinovasi terutama untuk penggunaan teknologi digital. Milenials menginginkan suatu kemudahan dengan teknologi digital dari ujung ke ujung. Seperti dari check-in di bandara, lalu bisa kemana saja, booking hotel dan lainnya.
Brand industri pariwisata perlu memanfaatkan fungsi dari teknologi digital. Dan hal ini perlu diterapkan mulai dari kapal pesiar, hotel, serta tempat wisata. Milenials memiliki suatu karakter yang ingin memiliki sesuatu yang unik dan terpersonalisasi sesuai karakter dan kebiasaan masing-masing. Contoh nyatanya seperti hotel. Zaman sekarang, rata-rata milenials menggunakan peratalan digital untuk berinteraksi denga hotel. Mereka menggunakannya dari sejak perjalanan hingga akhir perjalanan.
Hal ini menunjukan milenials suka memanfaatkan teknologi digital untuk mengatur perjalanan mereka. Jelas milenials senang melakukan segala sesuatunya sendiri, mengutamakan efisiensi dan kemudahan, tetapi kurang sabar.
Dari apa yang sudah saya tulis, tak heran teknologi digital memegang peranan penting terhadap perilaku milenials. Mulai dari mencari dan mendapat info mengenai suatu destinasi wisata, sampai dari memesan tiket pesawat dan booking kamar hotel.