Be yourself; Everyone else is already taken.
— Oscar Wilde.
This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.
Be yourself; Everyone else is already taken.
— Oscar Wilde.
This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.

Tentunya siapa sih yang tidak tau Bali. Pulau yang penuh dengan keindahannya, banyak dipilih sebagai destinasi wisata yang harus dikunjungi. Karena Bali pun banyak menawarkan tempat-tempat wisata yang semuanya bagus dan pastinya ingin dikunjungi semuanya. Warga negara asing pun juga banyak lebih tahu hal tentang Bali daripada Indonesia. Karena Bali adalah sektor pariwisata nomor 1 di Indonesia. Tetapi di era globalisasi ini, dunia kerja akan semakin ketat. Karena itu, dibutuhkan banyak sumber daya manusia yang tangguh dan siap mengghadapi globalisasi. Apalagi dengan adanya berlakunya pasar bebas di ASEAN, maka munculah juga MEA atau masyarakat ekonomi asean.
Maka dari itu orang lokal Indonesia pun menjadi memiliki banyak pesaaing karena MEA bisa saja bekerja dimana saja. Dalam era globalisasi dan pasar bebas, maka yang diperlukan adalah sumber daya manusia yang andal dan menyiapkan tenaga sesuai kebutuhan pasar kerja Maka dari itu orang lokal Indonesia pun menjadi memiliki banyak pesaaing karena MEA bisa saja bekerja dimana saja. Adanya kejadian tersebut pun bisa membawa dampak positif dan negatif. dalam era globalisasi dan pasar bebas, maka yang diperlukan adalah sumber daya manusia yang andal dan menyiapkan tenaga sesuai kebutuhan pasar kerja

Kebudayaan adalah esensi kehidupan bangsa. Mengenal kebudayaan bangsa berarti mengenal aspirasinya dalam segala aspek kehidupannya sedangkan pariwisata adalah keseluruhan gerakan manusia yang melakukan perjalanan atau pesinggahan sementara dari tempat tinggalnya ke suatu atau beberapa tempat tujuan di luar lingkungan tempat tinggalnya yang didorong oleh beberapa keperluan atau motif tanpa bermaksud mencari nafkah tetap.Oleh karena itu masalah kebudayaan dan pariwisata menjadi sangat menarik, terutama dalam era globalisasi yang telah memasuki seluruh penjuru dunia dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan komunikasi. Bukan negara-negara yang berkembang dengan budaya etnisnya yang menonjol, tetapi juga negara-negara maju pun menghadapi tantangan-tantangan baru, meskipun integrasi nasional mereka sudah mantap.Mereka mencari jalan keluar untuk mengatasi ekses-ekses negatifnya. Gobalisasi merupakan gejala yang tidak dapat dihindarkan, tetapi sekaligus juga membuka kesempatan yang luas. Gejala ini mulai menonjol sejak awal abad ke-20 dan mengakibatkan banyak hilangnya keaslian watak dan kemandirian budaya bangsa-bangsa. Globalisasi disebabkan oleh kemajuan-kemajuan Iptek, terutama di bidang teknologi komunikasi yang membawa dunia saling berdekatan dan mudah berkomunikasi melalui berbagai media. Yang paling berpengaruh adalah perkembangan dari dunia pertelevisian.Bali sebagai bagian dari Indonesia, pulau yang kecil tapi amat terkenal di dunia, berkat kebudayaanya melalui komunikasi pariwisata, tak dapat menjauhkan diri dari arus globalisasi ini. Bahkan kelihatannya Bali makin intensif berhubungan dengan perkembangan dunia kepariwisataan yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi komunikasi itu sendiri. Masalahnya sekarang apa yang harus dilaksanakan untuk menghadapi tantangan di bidang kebudayaan dan pariwisata Bali sehubungan dengan terjadinya globalisasi tersebut?.Persoalan menyangkut kepariwisataan sampai kapanpun selalu menarik dibicarakan. Menarik, mengingat, disadari atau tidak, pariwisata akan hadir selamanya, selama manusia hadir dimuka bumi ini. Tak seorangpun penghuni planet bumi yang berjuluk manusia ini luput dari kegiatan yang namanya wisata, rilek atau santai. Kita sisadari atau tidak dalam hidup ini pasti pernah menjadi turis atau paling tidak menjadi pelancong. Dengan demikian berarti kegiatan wisata bukan semata monopoli orang kaya apalagi orang kulit putih atau kulit kuning. Sementara masyarakat masih menganggap bahwa pariwisata adalah semata-mata bisnis atau urusan mereka yang berkecimpung pada bidang pariwisata seperti hotel, biri perjalanan, restaurant atau atraksi wisata. Mereka lupa dengan hadirnya pariwisata pembangunan menjadi semakin pesat mengingat pariwisata mendatangkan pemasukan cukup besar kepada daerah maupun negara. Mereka lupa bahwa pariwisata memungkinkan adanya pembukaan lapangan pejkerjaan baru dalam jumlah yang cukup besar.

Bali mengembangkan Pariwisata Budaya, karena kebudayaan merupakan paling potensial bagi kehidupan masyarakatnya, berakar sangat mendalam dalam sejarahnya dan mempunyai peradaban tua dan ini dapat dikembalikan sejarahnya pada permulaan tahun masehi dan tersebar secara meluas, Modal dasar adalah kebudayaan berfungsi secara normatif dan operasional. Sebagai normatif peranan kebudayaan diharapkan mampu dan potensial dalam memberikan identitas, pegangan dasar, pola pengendalian, sehingga keseimbangan dan ketahana budaya juga diharapkan mampu menjadi daya tarik utama bagi peningkatan pariwisata. Ini memberi petunjuk betapa pentingnya peranan kebudayaan bagi pengembangan pariwisata. Jadi bukan berarti kebudayaan untuk pariwisata tetapi sebaliknya pariwisata untuk kebudayaan. Dan kebudayaan disini bukan hanya berfungsi untjk dinikmati, tetapi juga sebagai media untuk membawa saluing pengertian dan hormat menghormati.Daya tarik Bali adalah dengan kebudayaannya yang unik dan merakyat. Kehidupan kebudayaannya adalah menyatunya agama, kebudayaan, adat yang harmonis, cipta, rasa dan karsa sebagai unsur budi daya manusia menonjol mengambil bentuk keagamaan, estetika dan etika (seni budaya, solidaritas, gotong royong rasa kebersamaan). Pelaksanaan upacara-upacara keagamaan mewariskan potensi ketrampilan dalam seni budaya dan disiplin rohani tekun bekerja dan taat pada norma-norma kehidupan masyarakat.Bali telah mulai menginjak dunia kepariwisataan mulai tahun 1927 sampai sekarang dan telah menjadi pusat pariwisata yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa 61% lebih tertarik pada kebudayaan dan 32,8% pada keindahan pemandangan alam flora dan fauna dan sisanya 5,37% pada hal-hal lain.Dalam peningkatan pariwisata, beberapa elemen kebudayaan dan peristiwa kebudayaan telah berperan antara lain :
Dalam wujud yang lebih abstrak,
suatu sistem nilai dari kebudayaan dapat dipakai sebagai pola penataan ruang
taman atau model suatu bentuk management.Melalui aspek kebudayaan fisik, aspek
kebudayaan prilaku dan kebudayaan ideal, simbol dan makna kebudayaan dapat
terkomunikasikan kepada pariwisata dan dapat menmberi citra yang mendalam
sebagai daya tarik saling menumbuhkan pengertian akan kehidupan kebudayaan
suatu bangsa. Juga melalui industri kerajinan sebagai tanda mata, berbagai
motif/desain kerajinan dan kreativitas di bidang kerajinan pada masyarakat Bali pada
dasarnya bersumber dan mendapat inspirasi dari kebudayaan. Akhir-akhir ini
perkembangan kreativitas dari masyarakat yang meningkat dalam berbagai bentuk
kerajinan maka nama Bali sebagai daerah pariwisata lebih meningkat
lagi.Kelihatan potensi budaya Bali dalam menghadapi perkembangan
kebutuhan akan berbagai kerajinan seni makin meningkat dan sumber budayanya
sebagai tak pernah kering. Landasan budaya dalam kehidupan masyarakat yang
sosial religius di Bali tetap mantap sehingga kontak-kontak
kebudayaan dan pariwisata pada saling menunjang dalam peningkatannya dan dalam
pembinaannya. Demikian juga telah mampu meningkatkan kreativitas serta
memperkaya diri sebagai hasil dari adopsi, adaptasi yang selektif dan kreatif.
Keadaan ini terutama ditunjang oleh pengembangan pariwisata didukung oleh
kebijaksanaan pemerintah dan juga oleh masyarakat serta disamping berhasil
meningkatkan kreativitas pendapatan masyarakat, juga meningkatkan
kreativitasnya dan dorongan bermunculan industri – industri rakyat.Dinamika
budaya mampu mengembangkan dirinya sehingga modernitas dan tradisi menyatu
dalam tiap tahap memberi stabilitas yang mantap dan juga meningkatkan
kepercayaan pada diri sendiri serta membuatnya gairah.Dengan demikian
kebudayaan akan terus berkembang sbagai akibat kemajuan-kemajuan masyarakat itu
sendiri, menuju masyarakat yang modern, tanpa kehilangan dirinya (berkelanjutan
dalam perobahan). Pengembangan kebudayaan memang dibutuhkan oleh masyarakat
sedangakan pariwisata memberi dukungan terhadap pengembangan kebudayaan dan
mendorong munculnya kreativitas pada masyarakat Bali. Munculnya
kreativitas telah mendorong pengembangan kebudayaan. Pengembangan kebudayaan
melalui penggalian-penggalian kebudayaan itu sendiri menimbulkan pemahaman dan
kesadaran akan kebudayaan menumbuhkan keyakinan akan kemampuan diri sendiri dan
sadar berbudaya.Pola kehidupan yang menyatu (integrated) yaitu keagamaan, seni
budaya adat maka harus ke arah komersialisasi akan kecil dan selalu akan dapat
diatasi sendiri. Dan dalam perkembangan seni tampak jelas adanya dua arah dan
dua pola secara bersama-sama yaitu pola kesinian untuk pariwisata dan pola
kesenian untuk kehidupan masyarakat dan ini lebih besar perkembangannya. Dalam
kehidupan masyarakat Baliseni tidak dapat dipisah-pisahkan dan merupakan bagian
dari hidupnya dan perlu terus mendapat pembinaan. Pembinaan diarahkan di mana
masyarakat swadiri agar mampu mendukung kehidupan senimannya secara material.
Bila ini sudah dapat dicapai maka kedudukan sosial budaya masyarakat akan makin
kuat dalam menghadapi globalisasi.Dinamika kehidupan kebudayaan yang bersifat
progressif, kemudian diantisipasi secara positif oleh kebijaksanaan pemerintah
daerah yang menyelenggarakan Pesta Kesenian Bali secara kontinue setiap tahun
sejak tahun 1979. Dalam Pesta Kesenian yang tiap tahun berlangsung selama satu
bulan itu berbagai produk kebudayaan dipamerkan berbagai aktifitas kebudayaan
diragakan dan berbagai kreativitas dilombakan. Pelaksanaan Pesta Kesenian Bali
yang berlangsung di tengah-tengah arus meningkatnya tahun telah memberikan
makna pada kehidupan kebudayaan sendiri baik keluar maupun ke dalam. Tujuan
utamanya ialah menggali semua potensi traidis seni budaya untuk dikembangkan
agar dapat memenuhi stabilitas pada tiap-tiap perkembangaanya.
Dalam beberapa hal telah mencapai tujuannya. Pertama semua masyarakat telah
mengenal kekayaan seni budayanya sendiri yang tiap-tiap tahun dipamerkan
melalui prosesi, pergelaran dan pameran-pameran. Pariwisata dapat menyaksikan
pertunjukan-pertunjukan seni yang bermutu pada waktu pesta seni berlangsung.
Yang jarang mereka akan dapat melihatnya dalam kesempatan biasa dan demikian
juga merupakan media komunikasi melalui seni yang sangat berharga. Dan
masyarakat sendiri mendapat kesempatan menyaksikan seninya sebagaimana yang
dikehendaki, isinya, ceritanya dan sebagainya, bahkan dalam bentuk yang cukup
memberi rasa kebanggaan pada mereka. Masyarakat dapat melihat keberadaan
seninya sendiri dalam dunia yang makin terbuka dan makin lebar.Dalam
hubungannya dengan Pariwisata dapat dikatakan bahwa antara pariwisata dan
kebudayaan telah berkembang satu pola interaksi yang bersifat dinamik dan
dinamika itu ternyata tidak hanya bergerak secara horisontal tetapi juga
vertikal, dalam arti kebudayaan mampu meningkatkan Pariwisata dan Pariwisata
mampu meningkatkan Kebudayaan serta dalam dinamika vertikal dalam kebudayaan
secara jelas kentara potensi kebudayaan Bali dalam wujud yang luwes, adaptatif
dan kreatif tanpa kehilangan identitasnya sendiri

Sebagai pusat pariwisata yang membuat kebudayaan Bali harus selalu mengalami pertemuan-pertemuan dengan berbagai kebudayaan, maka pembinaan kebudayaan lokal harus dilakukan secara terus menerus. Yang lebih penting, jangan sampai ada gejala masyarakat Bali diasingkan dari lingkungan kebudayaannya sendiri. Karena hal ini akan dapat membawa akibat buruk , seperti misalnya terjadi erosi kebudayaan yang dipaksa oleh kemiskinan penduduknya.Tiap-tiap program pembangunan hendaknya selalu berkaitan dengan potensi dasar yang dimiliki oleh masyarakat Bali, yakni kebudayaan yang bernapaskan agama Hindu. Dan mengembangkan dinamika masyarakat daerah ini sangat efektif kalau dilakukan lewat lembaga-lembaga tradisional, sehingga mereka mampu dengan cepat menyesuaikan nilai-nilai baru yang hendak dikambangkan dalam menyongsong era globalisasi.

My tourism life in future
Berbicara mengenai tourism atau dunia pariwisata pasti tidak akan ada habisnya. Pariwisata selalu menjadi hal yang menarik untuk dibahas dalam setiap kesempatan. Apalagi kita hidup di negara yang berkecimpung di dunia pariwisata. Dan disini saya selaku penulis blog ini adalah orang asli Bali, lebih tepatnya Ubud. Dalam kesempatan ini saya akam membahas mengenai “ Apabila saya memiliki usaha, usaha apa yang ingin dikembangkan? Dan bagaimana cara pengembanganya? “
Jika saya menjadi pelaku pariwisata, saya berharap bisa menjadi pemilik atau owner salah satu villa ataupun hotel. Kenapa harus menjadi owner? Karena jabatan tersebutlah yang memegang kendali dalam dunia perhotelan. Jika sudah menjadi pelaku pariwisata, maka harus siap menerima hal positif maupun negatif dunia industri pariwisata.
Kenapa saya memilih menjadi pengusaha villa atau hotel? Karena dunia pariwisata lah yang memegang peranan penghasil ekonomi terbesar di Indonesia khususnya Bali. berkaca pada pengalaman seseorang, menjadi pengusaha villa harus memiliki modal yang cukup tinggi diawal, namun hal itu sepadan dengan pendapatan yang kita raih perbulannya.

Disamping mendapat pendapatan yang terbilang cukup tinggi, menjadi owner sebuah villa juga tidak tergolong hal yang berat. Jika sudah menjadi ibu rumah tangga, kebanyakan mereka ingin fokus ke keluarga dan menjadi pemilik usaha adalah hal yang tepat. Namun menjadi owner suatu villa juga harus memiliki orang-orang di balik layar yang membantu dalam administrasi di villa. Banyak konsep villa nantinya yang akan saya buat dan sudah terpikirkan. Pastinya konsep minimali milenial, dimana banyak spot foto instagramable. Konsep suatu tidak harus besar, namun dapat memberikan rasa nyaman pada pengunjungnya. Kebanyakan wisatawan jaman sekarang mengincar villa yang tidak terlalu mahal namun berisi kolam renang dan memberikan rasa nyaman.

Selain itu saya juga berkeinginan memiliki konsep villa yang seperti president suite di hotel-hotel. Salah satu konsep villa yang menarik minat saya ubtuk memiliki seperti itu adalah Six Senses Uluwatu. Dimana mereka memiliki konsep president suite yang luas dan memiliki bebrapa kamar di setiap president suite nya. Hal yang menarik lainnya di tempat tersebut adalah customer service yang baik, dimana disetiap presudent suite ada guide nya, ada barista, dan orang-orang yang membersihkan kamar. Konsep promosi nya pun menarik sehingga menarik minat masyarakat luas.

Suatu villa atau pun hotel sebaik apapun jika tidak ada promosi atau pemasaran yang baik pasti akan gulung tikar. Jika saya nantinya memiliki usaha tersebut saya akan memasarkannya melalui digital. Apalagi sekarang semua hal yang kita lakukan berhubungan dengan digital. Konsep yang akan saya terapkan adalah promosi lewat blog, promosi di sosial media, dan ikut beberapa travel agent.

Strategi promosi yang saya lakukan yaitu tidak jauh-jauh dari dunia digital, karena kebanyakan orang melihat suatu informasi melaui digital. Sebelum membangun suatu kerajaan bisnis seperti villa atau hotel kita harus pintar dalam memilih lokasi. Lokasi yang dapat dijangkau dari mana pun biasanya memiliki nilai jual tinggi.
Usaha yang juga saya ingin miliki adalah seperti usaha tempat makan, baik itu restaurant harga rakyat, restaurant Indonesia, hingga konsep fine dining. Konsep restaurant yang ingin saya miliki pertama adalah konsep mangkokku.id, dimana itu adalah usaha dari chef Arnold dan anaknya presiden Indonesia yaitu Gibran dan Kaesang. Mangkokku memiliki konsep makanan harga rakyat rasa harga bintang lima. Selain karena makanannya yang memang bener enak, tempat yang nyaman dan bersih juga menjadi pertimbangan. Konsep restaurant fine dining juga usaha yang ingin saya miliki nanti. Karena dalam usaha fine dining sangat menentukan kualitas rasa dari makananya. Hal tersebut diakibatkan oleh cost atau harga fine dining yang memang terbilang ckup tinggi. Kenapa saya ingin memiki konsep fine dining karena, dalam restaurant fine dining umumnya berkonsep romantis yang biasanya disukai orang-orang luas. Konsep fine dining juga menampilkan kemewahan saat makan. Selain karena makanannya, pakaian yang digunakan, juga harga dan bentuk dari makanan yang luar biasa.

Strategi promosi dan pengembangan yang akan saya lakukan juga dalam hal digital. Mempromosikan lewat sosial media, blog pribadi, dan konsp digital lainnya. Dan nantinya sudah menggunakan booking system, dimana kita melakukan reservasi terlebih dahulu, baru bisa makan di restaurant fine dining yang akan saya miliki.

Itulah sedikit ulasan saya mengenai usaha-usaha yang ingin saya miliki jika saya nantinya punya kesempatan dan budged yang memadai. Karena usaha bidang pariwisatalah yang saat ini sedang naik daun dan paling efisien dalam menghasilkan pundi-pundi rupiah. Dan promosi yang paling baik saat ini memang dunia digital. Wisatawan dapat mengakses usaha kita dimanapun dan dimanapun. dan yang paling penting adalah adanya customer service yang baik.
Sebelum mengetahui lebih dalam apa saja dampak-dampak dari revolusi industri 4.0 pada industri pariwisata, mari kita cari tau dulu apa sih itu revolusi industri 4.0. Jadi revolusi industri 4.0 itu sendiri artinya perubahan hubungan antar manusia yang mengalami perubahan sangat cepat dengan kehadirannya teknologi. Perkembangan teknologi yang mampu merubah pola hubungan antara manusia disegala aspek kehidupan bermasyarakat baik dari aspek sosial, ekonomi, hukum, politik dan budaya serta keamanan. Perubahan dari sentuhan kulit menjadi sentuhan layar. Sebuah perubahan yang mau tidak mau harus kita sikapi dengan arif dan bijaksana agar menghasilkan output yang positif. Atmosfir yang meniscayakan adanya perubahan mindset, cara kerja, dan pola membangun hubungan yang harmonis antar kelompok masyarakat maupun organisasi.

Itu yang namanya revolusi industri 4.0 beserta fase-fasenya. Karena kita sudah memahami apa itu revolusi 4.0, langsung saja kita membahas dampak-dampaknya dalam industri pariwisata. Karena adanya revolusi industri 4.0, maka munculah yang namanya Era Creative atau Cultural Industry yang tidak dapat bisa dihindarkan karena cepat atau lambat akan menyisir hampir di seluruh sektor, tak terkecuali pariwisata
Dengan yang namanya teknologi, maka tidak jauh lah hubungannya dengan milenials. Diinformasikan oleh Menteri Pariwisata Indonesia saat ini, bahwa 70% milenials sudah menikmati manfaat era digital. Para milenials bisa melihat destinasi, memesan dan membayar hanya dengan satu aplikasi di smartphone mereka masing-masing dengan cepat, murah, dan mudah pula.

Pariwisata Indonesia juga terpaksa melakukan program Go-Digital dalam upaya memenangkan pasar di era revolusi industri 4.0 ini. Penerapan teknologi 4.0 akan mengubah secara mendasar wajah berbagai industri, termasuk pariwisata. Berbagai kemajuan teknologi 4.0 memungkinkan terwujudnya berbagai aplikasi yang mampu memperkaya traveller experience di satu sisi, dan secara drastis mendongkrak produktivitas industri pariwisata di sisi lain. Contohnya seperti, di bandara dimungkinkan adanya robotic airport guide/helper yang membantu para travellers melakukan proses check-in dan boarding. Lalu juga ada layanan on-demand service untuk jasa transportasi yang sangat praktis dan efisien. Di hotel bisa dikembangkan layanan e-concierge, m-payment, atau personal assistant dengan memanfaatkan teknologi augmented reality (AR).

Sementara di destinasi wisata, seluruh informasi destinasi tidak lagi melalui brosur atau penjelasan para guide tetapi sudah memanfaatkan teknologi virtual reality via smartphone di tangan.
Singkatnya, revolusi industri 4.0 ini bakal mengubah dan mendisrupsi industri pariwisata secara mendasar karena terwujudnya cost value , experience value , dan platform value yang bakal dinikmati para travellers.
Tidak hanya di Indonesia, di negara lain di Eropa, seperti Spanyol merupakan negara yang paling maju dalam menerapkan Tourism 4.0 ini. Spanyol adalah salah satu negara termaju dalam urusan mendatangkan wisatawan mancanegara. Tahun 2017 lalu Spanyol menduduki urutan kedua dengan jumlah wisman mencapai 82 juta. Kontribusi sektor pariwisata Spanyol mencapai 15% GDP, menyerap 15% tenaga kerja yang mencapai lebih dari 2,8 juta. Karena itu Spanyol sangat serius membenahi sektor pariwisatanya dengan menempatkan teknologi 4.0 sebagai sumber competitive advantages.

Dari yang sudah kita ketahui diatas, banyak pengaruh positif dari revolusi industri 4.0 terhadap industri pariwisata di Indonesia maupun di negara lainnya. Di Indonesia sendiri dampak-dampak nyata yang sangat jelas adalah betapa mudahnya dalam membooking tiket pesawat, melihat destinasi wisata yang ingin dituju hanya melalui dari media sosial saja, memesan dan membayar hanya lewat satu smartphone saja, dan masih banyak lagi. Selain hal diatas, pemerintah dapat bisa menemukan cara untuk menaikan persentase pangsa pasar dalam bidang pariwisata. Hal itu tentunya sangat bagus secara Indonesia memilik potensi yang sangat besar dan tidak ada habis-habisnya dalam bidang pariwisata. Selain hal itu juga, para milenials menjadi semaking semangat dalam berpergian dan travelling karena kemudahan yang diberikan dari revolusi industri 4.0.

Tetapi, dengan kemudahan yang sudah diberikan ini masih saja banyak orang yang menggunakan sistem lama. Dan pelaku bisnis di bidang tersebut juga harus di edukasi agar bisa menggunakan sistem yang lebih modern dan tentunya lebih simple juga.
Pada dasarnya, generasi Y atau yang biasa disebut generasi millenial hidup di teknologi yang serba bisa. Dan rata-rata pun mereka sudah menggunakan teknologi digital. Hal tersebut juga lah yang menjadi pembeda dari setiap wisatawan mancanegara alias wisman dalam berkunjung ke destinasi wisata di Indonesia. Masing-masing dari mereka memiliki kebiasaan tersendiri dalam berwisata. Ini semua berkat tidak lain dari regulasi dan teknologi.
Setidaknya itulah yang dikatakan Kemenpar kita, Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc . Hal tersebut pun sudah terbukti adanya dari Pariwisata Indonesia yang naik sebesar 22% di atas rata-rata pertumbuhan pariwisata dunia yang hanya 6,4% dan pertumbuhan di ASEAN yang mencapai 7%. Saya pribadi pun bisa melihat dampak tersebut. Sewaktu saya masih di Jogja beberapa bulan yang lalu, banyak sekali wisatawan mancanegara yang berasal dari negara-negara di Asia seperti Jepang, Korea, China, Vietnam, Singapore yang berlalu lalang di kota Gudeg tersebut. Sama halnya juga di Bali.
Tidak hanya dari generasi millenial dari luar negeri, millenials dari dalam negeri pun juga turut ikut andil dalam membangun pangsa pasar pariwisata digital di era ini. Karena begitu mudah menarik milenials untuk datang berkunjung disuatu lokasi bila lokasi tersebut instagramable. Hanya dengan memiliki beberapa spot yang sangat cocok untuk befoto dan berselfie ria dan bisa diposting di instagram, pasti milenials bakal berkunjung ke lokasi tersebut meskipun menempuh jarak yang terbilang lumayan.
Cara terbilang ampuh karena milenials sekarang sangat keranjingan yang namanya memrapihkan feeds instagram. Berbekal dengan mempromosikan destinasi wisata tersebut via Instagram dan media sosial lainnya, atau membayar influencer untuk mempromosikan destinasi wisata tersebut di media sosial mereka sehingga para followers mereka dapat melihat destinasi wisata tersebut dan merasa tertarik untuk berkunjung ke destinasi wisata tersebut.
Dari hal tersebut pun membuat para milenials nge-share destinasi wisata yang baru saja mereka kunjungi dan orang lain yang melihat pun juga tertarik dan pada akhirnya jadi nge-search di google. Itulah kekuatan dan sisi positif dari para milenials yang membuat pelaku bisnis pariwisata zaman sekarang melihat berbagai kesempatan untuk menggaet pengunjung.
Tidak melulu destinasi wisata modern yang sering dilabeli zaman now yang hanya dikunjungi milenials. Destinasi wisata alam seperti Raja Ampat di Papua Barat yang mempunyai gugusan pulau yang eksotis yang tak ada habisnya untuk di explore, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur yang menyajikan pemandangan matahari terbit di Gili Laba yang sangat eksotis dan siap memanjakan mata tiap para pengunjungnya, Derawan di Kalimantan Timur yang menawarkan taman bawah lautnya yang eksotis, serta Wakatobi di Sulawesi Tenggara yang memiliki titik-titik selamnya yang begitu menawan adalah sederet dari beragam destinasi wisata alam yang pasti menjadi daftar yang wajib dikunjungi oleh milenials
Begitu banyak potensi yang bisa didapatkan dari milenials, tetapi milenials memiliki satu kecendurungan untuk bisa selalu setia pada satu “brand”, namun dapat dengan mudah beralih. Hal itu tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku di industri pariwisata. Mereka harus selalu terus berinovasi terutama untuk penggunaan teknologi digital. Milenials menginginkan suatu kemudahan dengan teknologi digital dari ujung ke ujung. Seperti dari check-in di bandara, lalu bisa kemana saja, booking hotel dan lainnya.
Brand industri pariwisata perlu memanfaatkan fungsi dari teknologi digital. Dan hal ini perlu diterapkan mulai dari kapal pesiar, hotel, serta tempat wisata. Milenials memiliki suatu karakter yang ingin memiliki sesuatu yang unik dan terpersonalisasi sesuai karakter dan kebiasaan masing-masing. Contoh nyatanya seperti hotel. Zaman sekarang, rata-rata milenials menggunakan peratalan digital untuk berinteraksi denga hotel. Mereka menggunakannya dari sejak perjalanan hingga akhir perjalanan.
Hal ini menunjukan milenials suka memanfaatkan teknologi digital untuk mengatur perjalanan mereka. Jelas milenials senang melakukan segala sesuatunya sendiri, mengutamakan efisiensi dan kemudahan, tetapi kurang sabar.
Dari apa yang sudah saya tulis, tak heran teknologi digital memegang peranan penting terhadap perilaku milenials. Mulai dari mencari dan mendapat info mengenai suatu destinasi wisata, sampai dari memesan tiket pesawat dan booking kamar hotel.
This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.
You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.
Why do this?
The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.
To help you get started, here are a few questions:
You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.
Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.
When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.